“ Kamu kini sadar...
Menikmati rindu dalam tumpukan sejuta lebih tanda tanya adalah pemandangan indah tapi tak kasat mata ”
Yaa seperti biasa nya, tiada yg spesial dari malam ini. Hanya
semangkuk rindu dan secangkir kesepian . Ku seduh dengan air panas delapan
puluh derajat, kuteguk sendiri.
Nikmat~
Meski manisnya kurang tepat.
Adakah yg spesial dari malam ini?
Setelah semua cerita tentang keindahan kau renggut habis.Dan aku hanya disisakan sedikit angan, yg lebih pantas……………
Yaa, dan kamu...
Jadilah ada. Karena kamu dicipta untuk hidup di dunia nyata. Hadirlah bersama terbitnya matahari, datanglah bersama munculnya rembulan. Dan ketika rembulan mulai hilang, jadilah gelap itu sendiri. Jangan sembunyi, kamu dicipta untuk ada, ada untuk dunia ku dan dunia mereka orang-rang yg menyukai mu ataupun membenci mu.
"NENEK, AYAH, IBU dan SEMUA "
Akhir-akhir ini, entah mengapa aku selalu memikirkanmu.
Tentang pesan-pesan yg kalian sampaikan padaku waktu itu, maaf kalau aku belum mampu menjalankannya. Semua maupun sebagian.
Tentang nasihat-nasihat yang pernah kalian ucap padaku sejak dulu, ingin sekali ku ikuti. Semua.
Andai aku tak
sebodoh ini. Menjalani hidup semau-mau. Lupa bahwa di pulau seberang
sana ada keluarga yang dengan penuh kesederhanaan, entah bagaimana
caranya selalu memastikan hidupku terjamin di sini. Yang boleh jadi
dalam setiap shalat malamnya tak pernah khilaf memanjatkan do’a untuk
kebaikanku.
Yang selalu menjadi orang yang paling khawatir kala
mendengar kabar diriku yang sedang sakit, dirimu, ayah.
Betul kalian adalah manusia luar biasa, paling romantis sedunia. Aku
barangkali kebalikannya. Durhaka. Durjana.
Lalu tentang masa kecilku yang kita habiskan bersama, masihkah kau mengingatnya,Nek?
Saat ayah diam-diam kau tambahkan uang jajanku tanpa sepengetahuan ibu.
Saat ayah ambilkan rapor SD ku yang membuatmu (semoga) tersenyum bangga karena aku selalu peringkat satu.
Saat nenek bonceng aku ke Masjid dengan sepeda unta merk phoenixmu bila Jumat tiba.
Saat ayah ajak aku memancing di sungai,
atau kadang di lebung. Waktu itu kita sering dapat ikan gabus yang
besar-besar, Yah. Masih ingat?
Saat ibu mengajakku untuk ke kali belakang
rumah mandi sambil mencuci. Saat itu sungai belakang rumah kita masih
jernih, Yah. Tidak sekeruh kini. Tempat yang selalu jadi pelarian kita
bila kemarau datang memaksa sumur untuk kering.
Saat kita (aku+nenek) bermain di belakang rumah sambil menunggu ibu pulang bekerja. Saat itu kau buatkan aku mainan dari pelepah pisang.
Atau saat ayah memarahiku karena aku malas mandi, sholat dan mengaji dan malah terus-terusan bermain gundu padahal hari sudah mulai gelap.
Betapa banyak saat yang kita lalui. Bersama. Betapa kalian bimbing aku dengan cinta.
Aku ingat betul. Waktu itu, waktu
mendengar kabar baik diterimanya aku di UNPAD, atas idemu mengadakan
syukuran kecil-kecilan. Sekedar nasi kuning yang dibagikan ke tetangga.
Sejak saat itu, entah dalam momen kedatangan atau kepergianku dari
rumah, kau tak pernah absen memelukku, atau sekedar mengecup keningku.
Kadang menyapukan hidungmu ke sebagian wajahku.
Tahukah kau?
Pelukan itu, kecupan itu, selalu sukses membuatku jadi merindu. Kalian
memang romantis.
Beberapa hari yang lalu ibu telfon dan bilang bahwa ayah sedang sakit. Allah memang punya beragam cara
untuk menunjukkan cintanya, Yah.
Barangkali aku sok tahu. Tapi tentang masa
depan akhiratmu, aku yakin kalian masuk surga. Karena mengingat kalian sama dengan mengingatkanku pada Allah. Hingga aku jadi takut neraka. Takut tak bisa
lagi berjumpa kalian.
Demi ruang dan waktu yang olehnya raga ini dipisahkan
Kini aku rindu
Rindu semua pelukan dan kecupan
Rindu bercerita sampai malam tentang kehidupanku di kampus, atau mendengar cerita tentang perjuanganmu saat bersekolah dulu. Kemudian aku tanpa sadar membanding-bandingkan: masih jauh.
Aku rindu
Terlebih lagi,
Aku rindu saat Ramadhan..
Saat kita selalu sempatkan waktu untuk shalat shubuh berjamaah. Lalu duduk melingkar mendengarkan ceramah.
Alhamdulillah…
Terlebih lagi,
Aku rindu saat Ramadhan..
Saat kita selalu sempatkan waktu untuk shalat shubuh berjamaah. Lalu duduk melingkar mendengarkan ceramah.
Alhamdulillah…
Anakmu,
Yang baru saja dijerat haru usai meneleponmu
Yang baru bangun dari lupa bahwa telah lama kita tak berjumpa
Yang baru saja dijerat haru usai meneleponmu
Yang baru bangun dari lupa bahwa telah lama kita tak berjumpa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar